Ada kisah menarik dari teman saya tentang bagaimana ia bersosilisasi dengan lingkungan baru sekaligus menaklukan preman di lingkungannya. Awalnya kami ingin diskusi mengenai bisnis yang digelutinya yaitu cuci motor, eh ternyata ada kisah menarik dibalik berdirinya bisnis tersebut. Anggaplah namanya si Fulan. Berikut kisahnya.
Fulan ini adalah orang medan. Kalau dari tampang sih bukan tampang yang serem atau preman. Ya biasa aja. Dari sisi bicara juga tidak kasar, tapi tentunya punya logat medan yang khas. Ketika ia pindah ke rumah baru di daerah bekasi, ada beberapa preman dilingkungan barunya itu langsung menghampiri dan tanpa permisi sana sini langsung membantu menurunkan barang2 pindahan yang ada di truk. Fulan ini agak kaget juga, koq orang2 ini langsung aja nggak minta izin dulu. Padahal yang membantu untuk menurunkan barang2nya (dari kerabat) juga sudah banyak. Lalu ia sudah tahu arah dari tindakan mereka, pasti preman2 ini mau minta uang. Jadi dibiarkannya sampai selesai, trus diberikannya lah uang Rp 50 ribu. Preman ini menjawab, “wah bang, mana cukup uang ini, kita aja ada 6 orang”. Lalu, si fulan bilang, “ya sudah ini gw tambahin 10 ribu”. “masih kurang bang”, jawab preman. Fulan agak sedikit kesal berkata,”Jadi mau kalian apa ?”. Preman ini bilang lagi,”Uang ini mah kurang buat kita minum2″. “Oww, jadi kalian mau minum2. Kalian nongkrong dimana ? Nanti malam gw beliin minum2.” sahut Fulan. “OK ya, gw nongkrong di pos itu, gw tunggu ntar malam, awas kalo loe nggak datang, abis rumah loe”, tantang Preman.
Lalu, sore harinya ia beli 4 botol bir hitam. 1 botol sengaja dibukanya, trus diisi dengan extra joss, lalu ditutup kembali. Malamnya, ia langsung datang ke tempat pos preman itu dengan membawa bir yang telah dibelinya. “Ini birnya, ayo kita minum”, bilang si Fulan. Lalu, ia membuka bir tersebut, dan menuangkan ke masing2 gelas yang ada di tangan preman. Dengan antusias, preman2 ini meminumnya. Lalu, ia membuka 1 botol yang telah diisi extra joss itu dan langsung meminumnya dengan memegang botol tersebut tanpa berhenti, glek glek glek. Melihat apa yang dilakukan fulan, preman itu pun kaget dan bilang, “bang bang, minumnya jangan gitu, ntar loe langsung tepar lagi,”. Si fulan bilang, “ah ini mah belum apa2, gw udah biasa minum, di medan gw nggak minum kayak gini, gw minumnya tuak yang lebih keras. Kalo ke makasar gw juga suka minum tuak yang dari tikus itu loh, jadi ini kagak ada apa2nya”. Padahal sih ini bohong. Preman2 yang sudah mulai mabuk pun mengiyakan apa yang dikatakan fulan, lalu bilang, “wah hebat juga loe”.
Tak lama ada tim ronda yang ditemani Pak RT didaerah situ yang berkunjung ke pos tersebut. Ternyata orang2 situ sudah mengenal perilaku preman2 disana yang suka minum2. Pak RT pun bertanya kepada si Fulan tentang dirinya. “Halo Pak, saya Fulan, saya baru pindah di daerah sini, rumah saya disana”. Pak RT pun bingung koq ia ada di pos ini. Fulan menjelaskan,”jadi gini pak, waktu saya beres2 barang, mereka saya kasih uang nggak mau, trus mintanya dibeliin minum2. Jadi ya saya beliin aja minum2, kita janjian di pos ini”. Akhirnya mereka bincang2 semalaman, ada preman, ada tim ronda, ada pak rt, ada si fulan. Preman2 sudah mulai mabuk. Si Fulan sih biasa2 aja.
Lalu, paginya si fulan lari pagi. Preman, tim ronda dan pak RT pun kebingungan. Loh koq si Fulan udah segar gitu, padahal tadi malam khan minum2. Dengan PD ia mengatakan,”sudah dibilang kalo saya itu biasa minum, yang tadi malam itu nggak ada apa2nya”. Makin salutlah preman2 itu sama fulan, dan akhirnya menghormati dan tidak mengganggunya. Bahkan setiap ia keluar masuk komplek, preman yang suka jadi “Pak Ogah” itu selalu menjaga jalan dan mempersilahkan Fulan lewat terlebih dahulu, dan dengan panggilan yang khusus,”Pagi Bosss”… Pada hari pertama kepindahannya ia sudah langsung dikenal oleh “orang2 penting” di sekitar rumahnya …







